Islam tentang Keluarga

Islam menolak pembentukan keluarga yang tidak didasari atas perkawinan yang sah. Islam memberikan perhatian besar pada penataan keluarga, terbukti bahwa seperempat bagian fikih yang dikenal dengan Rub al Munakahah adalah mengenai penataan keluarga, mulai dari persiapan, pembentukan sampai pada pengertian hak dan kewajiban setiap unsur dalam keluarga kesemuanya dimaksudkan supaya pembentukan keluarga mencapai tujuannya seperti disebutkan dalam AlQur’an.11
AlQur’an menekankan kebersamaan anggota masyarakat seperti gagasan sejarah bersama, tujuan bersama, catatan pembuatan bersama, bahkan kebangkitan dan kematian bersama. Dari sini lahir gagasan amar ma’ruf nahi munkar.12 Tidak heran jika alQur’an mempunyai perhatian khusus terhadap konsep keluarga yang dari padanyalah gagasan di atas bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.
Ada beberapa ayat yang berbicara tentang tujuan perkawinan dalam alQur’an antara lain; alBaqarah : 187, 223; alMaarij: 29-31; alMu’minun: 5-7; asySyura: 11; anNahl: 72;
11 Ahmadie Thaha, “Keluarga”, dalam Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru, Van Hoeve, hlm. 73. 12 Zainal Abidin Alawy, Prinsip-prinsip Agama dalam Pembentukan Keluarga, Mimbar Hukum No. 53 Tahun XII, 2001. hlm. 66
10
arum: 21; anNisa: 19; anNur: 33 yang secara kronologis turunnya ayat sesuai dengan konsep makiyah-madaniyah versi Noldeke13 yang dijabarkan sebagai berikut:
 alMa’arij: 29-31 “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah yang melampaui batas”
Ayat tersebut di atas pada periode makkah awal ini berisi tentang perintah untuk menjaga kehormatan dengan menjaga kemaluan dengan hanya melakukan hubungan badan dengan istri-istri yang sah saja. Dan masih diperbolehkan untuk menggauli budak-budak perempuan milik pribadi. Dan larangan dibatasi diluar dari itu.
 alMu’minun: 5-7 “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela, barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itu orang-orang yang melampai batas”
Ayat 5-7 alMu’minun yang berada pada periode makiyah tengah memuat ayat yang persis sama redaksinya dengan ayat alMaarij pada periode tengah makiyyah di atas. Dan sepertinya konsepnya belum ada perubahan.
 AnNahl: 72 “Allah memberikan istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan dari mereka anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rezeki dari yang baik-baik”
13 Taufiq Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah AlQur’an, Forum Kajian Agama dan Budaya, 2001, hlm. 85
11
 Arum: 21 “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum berpikir”
 asSyura: 11 “Dia pencipta langit dan bumi, dan menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan binatang ternak berpasang-pasangan pula, dijadikannya kamu berkembang biak dengan jalan itu, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
Masuk pada periode makkah akhir ini lebih banyak lagi dibicarakan tentang perkawinan, anNahl 71 berbicara masalah keturunan (anak-anak) yang akan lahir dari perkawinan. arum 21 berbicara masalah hikmah perkawinan dengan tujuan ketenteraman dan kedamaian dalam keluarga, as Syura 11 berbicara tentang masalah reproduksi sebagai salah satu tujuan perkawinan. Dari sini Allah mulai menjelaskan arti penting sebuah keluarga yaitu melestarikan keturunan dan hidup tentram dalam keluarga.
 alBaqarah 187 “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu, mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak menahan nafsumu, karena ityu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu” 223 “Istri-istrimu seperti tanah tempatmu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu menghendaki”
 anNisa 1 “Hai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari seorang diir, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan
12
dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan” 9 “Dan hendaklah takut kepada Allahorang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah”
 anNur 33 “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesuciannya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya…dan Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian…”
Pada periode Madaniyah al Baqarah 187 dan 223 berbicara bahwa perkawinan juga sebagai pemenuhan hasrat seksual dan perintah untuk menggauli istri-istri dengan layak. AnNisa 1 dan 9 berbicara tentang kewajiban orang tua terhadap kehidupan anak-anaknya dan larangan menelantarkannya, anNur 33 berbicara tentang masalah jika seseorang tidak mampu untuk menikah maka dia diharuskan menahan diri dan menjauhi pelacuran.
Terlihat keberanjakan yang cukup jelas pada periode ini yaitu seperti ayat-ayat sebelumnya yang seolah menjadi istri hanya sebagai objek saja pada periode ini tampak sekali bahwa Allah menganjurkan hubungan yang seimbang antara suami dan istri layaknya partner dalam bekerja dan kepada keduanya juga diserahi tugas untuk bertanggungjawab terhadap masa depan anak-anak mereka. Dan pada ayat terakhir Allah memberikan suatu kelonggaran bagi manusia bagi mereka yang tidak mampu untuk kawin untuk bersabar dan menahan diri serta berusaha menjaga kesucian diri dan Allah telah melarang hubungan badan dengan budak-budak perempuan selain istri-istri yang sah.
13
Dari uraian tentang ayat-ayat pernikahan di atas maka dapat dipetakan secara jelas mengenai tahapan konseptualnya. Islam menempatkan perkawinan di dalam satu keluarga yang dinamakan keluarga yang merupakan “janji setia yang teguh” dan menggambarkan perpaduan kedua belah pihak (suami-istri) sebagaimana perpaduan persekongkolan di atas landasan satu hati, satu rasa dan satu jiwa. Di samping itu, dinyatakan pula sebagai dasar menyambung keturunan anak dan cucu dan sebagai unsur pertama dalam pembentukan keluarga. Maka dari sini timbullah cabang, dahan dan ranting berbentuk bangsa dan suku-suku untuk saling berkenalan, bekerjasama dan saling bantu membantu.14 Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting, diantaranya:
 Pembentukan sebuah keluarga yang didalamnya seseorang dapat menemukan kedamaian pikiran. Orang yang tidak kawin bagaikan seekor burung tanpa sarang. Perkawinan merupakan perlindungan bagi seseorang yang merasa seolah-olah hilang di belantara kehidupan; orang dapat menemukan pasangan hidup yang akan berbagi kesenangan dan penderitaan.
 Gairah seksual merupakan keinginan yang kuat dan juga penting. Setiap orang harus mempunyai pasangan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya dalam lingkungan yang aman dan tenang. Orang harus menikmati kepuasan seksual dengan cara yang benar dan wajar. Orang-orang yang tidak mau kawin seringkali menderita ketidakteraturannya baik secara fisik maupun psikologis. Ketidakteraturannya
14 Taufiq Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah AlQur’an, Forum Kajian Agama dan Budaya, 2001, hlm. 85
14
semacam itu dan juga persoalan-persoalan tertentu merupakan akibat langsung dari penolakan kaum muda terhadap perkawinan.
 Reproduksi atau sebagai wadah untuk melangsungkan keturunan. Melalui perkawinan, perkembangbiakan manusia akan berlanjut. Anak-anak adalah hasil dari perkawinan dan merupakan faktor-faktor penting dalam memantapkan pondasi keluarga dan juga merupakan sumber kebahagiaan sejati bagi orangtua mereka.
Tujuan perkawinan harus dicari dalam konteks spiritual. Tujuan sebuah perkawinan bagi orang beragama harus merupakan suatu alat untuk menghindarkan diri dari perbuatan jelek dan menjauhkan diri dari dosa. Dalam konteks inilah pasangan yang baik dan cocok memegang peranan penting.15
Dalam upaya menjaga status keluarga yang istimewa dan menjaga kelestariannya serta memaksimalkan tujuan-tujuannya maka, dibutuhkan sejumlah syarat dan rukun. Dalam Islam syarat dan hukum perkawinan pada hakekatnya bertujuan agar terjamin keutuhan ikatan lahir dan batin tersebut dan pada akhirnya agar tercapai kehidupan yang tentram damai dan penuh cinta dan kasih sayang sebagai tujuan perkawinan.16
Adapun jalinan perekat bagi bangunan keluarga adalah hak dan kewajiban yang disyariatkan Allah terhadap Ayah; Ibu, suami dan istri serta anak-anak. Semua kewajiban itu tujuannya adalah untuk menciptakan suasana aman, bahagia dan sejahtera bagi seluruh masyarakat bangsa.17
15 Ibrahim Amini, Bimbingan Islam untuk Kehidupan Suami-Isteri 16 Khoiruddin Nasution, Hukum Perkawinan I, Academia & Tazzafa, Yogyakarta, 2005. hlm. 36. 17 Quraish Shihab, Membumikan AlQur’an, cet.XXII, Mizan, Bandung, 2001.hlm.255
15
Keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya adalah cerminan dari keadaan keluarga-keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut.18 Kesimpulan
Allah menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan pemikiran setiap insan dan hendaknya darinya dapat ditarik pelajaran berharga. Menurut pandangan AlQur’an, kehidupan kekeluargaan, disamping menjadi salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Ilahi, juga merupakan nikmat yang harus dapat dimanfaatkan sekaligus disyukuri.19 Rumah tangga merupakan kelompok terkecil di dalam sebuah negara. Ia dibentuk oleh dua atau lebih individu. Andainya negara diibaratkan seperti rumah, maka rumah tangga ialah asas atau tapaknya. Dalam memperjuangkan sebuah negara Islam, asas inilah yang perlu di bangun terlebih dahulu. Jika asasnya kukuh, akan kukuhlah negara yang ditegakkan nanti. Tetapi jika sebaliknya, negara yang dapat ditegakkan itu tidak akan bertahan lama. Ia akan runtuh kembali sebelum mencapai matlamatnya.
Pengaturan kesinambungan dalam kehidupan keluarga dituntut oleh ajaran Islam. Hal tersebut lahir dari rasa cinta terhadap anak keturunan dan tanggungjawab terhadap generasi.20
18 Ibid; 253 19 Ibid; 20 Ibid; 257
16
Daftar Pustaka
Al Qur’an al Karim dan Terjemahannya, Departemen Agama Republik Indnonesia.
Ahmadie Thaha, “Keluarga”, dalam Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Hardono Hadi, Jatidiri Manusia:Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, Kanisius, Yogyakarta, 1996.
Elizabeth Warnock Fernea, “Keluarga”, dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, ed: John L. Esposito, (eds terjemahan), Mizan, 2001
Ibrahim Amini, Bimbingan Islam untuk Kehidupan Suami Istri
K.J.Veeger, Realitas Sosial, Gramedia, Jakarta, 1993
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi, UI Press, cet II, Jakarta, 1987
Khoiruddin Nsution, Hukum Perkawinan I, Academia & Tazaffa, Yogyakarta, 2005
Quraish Shihab, Wawasan AlQur’an, cet. VII, Mizan, Bandung, 1998.
____________, Membumikan AlQur’an, cet. XXII, Mizan, Bandung, 2001.
Zainal Abidin Alawy, Prinsip-prinsip Agama dalam Pembentukan Keluarga, Mimbar Hukum No. 53 Thn. XII 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s